Pentingnya Mempelajari 'BIM' Untuk Konstruksi Jangka Panjang

by Calon Teknik Sipil - Senin, 28 Agustus 2023 in Teknologi dan Program Komputer

Calon Teknik Sipil - Building Information System (BIM) adalah suatu sistem atau teknologi yang mencakup beberapa informasi penting dalam proses design, construction, maintenance yang terintegrasi pada...

Calon Teknik Sipil - Building Information System (BIM) adalah suatu sistem atau teknologi yang mencakup beberapa informasi penting dalam proses design, construction, maintenance yang terintegrasi pada pemodelan 3D-8D. BIM ini sudah mulai banyak digunakan pada proyek – proyek strategis yang ada di Indonesia, khususnya proyek bangunan yang memiliki kompleksitas tinggi seperti gedung, jembatan, underpass, detail pembesian, pembuatan shop drawing, as built drawing, dan lain-lain. Penerapan BIM tentunya sangat penting dikembangkan di Indonesia karena dapat mempermudah dan mempercepat proses pekerjaan di proyek. 

Penggunaan perangkat lunak BIM saat ini sudah cukup meluas serta digunakan sebagai standar industri. Peraturan Menteri PUPR Nomor: 22/PRT/M/2018 menjabarkan kebijakan pelaksanaan BIM pada ruang lingkup Kementerian PUPR mengamanatkan bahwa untuk perencanaan bangunan Gedung Negara tidak sederhana yang memenuhi spesifikasi luas di atas 2.000m2 dan di atas 2 lantai wajib menggunakan BIM. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa teknologi BIM belum sepenuhnya dikaji dan dipelajari penerapannya dalam pembangunan infrastruktur sipil seperti jalan, jembatan, terowongan, dan jenis konstruksi non-vertikal lainnya. Yang pasti, BIM memiliki segudang keunggulan seperti integrasi informasi dari berbagai disiplin ilmu dalam satu pemodelan 3D, memudahkan orang umum lebih mudah membaca gambar proyek 3 dimensi dibanding dengan 2 dimensi, serta mengantisipasi kebingungan atau keterlambatan proyek akibat lemahnya koordinasi antar disiplin ilmu (Struktural, Arsitektural, Mekanikal, dan Elektrikal)

Terdapat dua komponen utama dalam impementasi BIM dalam suatu proyek, yaitu BIM Engineer dan BIM Modeler, yang dapat diklasifikasikan dalam beberapa level sebagai berikut:.
  • Level 0, mampu membuat 2D dan tanpa kolaborasi seperti gambar di AutoCAD
  • Level 1, memungkinkan pengguna BIM memodelkan dalam bentuk 3D seperti menggunakan Google SketchUp, 3ds Max dan sebagainya. 
  • Level 2, pengguna BIM memodelkan gambar 3 dimensi disertai dengan perhitungan volume, jadwal, dan biaya. 
  • Level 3, pengguna BIM sudah bisa berkoordinasi antar disiplin ilmu melalui layanan terpadu berbasis cloud.
Adapun berbagai dimensi BIM yang digunakan pada sektor industri konstruksi, seperti:
  • BIM 3D, mampu menyertakan parameter informasi dan komponen  yang lebih detail, serta kemungkinan menggabungkan dengan banyak platform permodelan. 
  • BIM 4D, mengkolaborasikan gambar dengan jadwal kerja (scheduling)
  • BIM 5D, Quantity Take Off (QTO) terkait dengan estimasi biaya dan harga satuan dapat dikolaborasikan sehingga dapat diprediksi aliran biaya yang akan dan sudah dikeluarkan secara berkala. Dengan begitu, perubahan desain atau modifikasi di lapangan tidak akan merugikan pihak manapun.
  • BIM 6D, dapat dintegrasikan untuk menganalisa energi pada bangunan berkelanjutan (building sustainability), khususnya bangunan yang ingin mendapatkan sertifikasi bangunan hijau (green building) dari lembaga terpilih, misalnya: Green Building Council Indonesia (GBCI)
  • BIM 7D, digunakan dalam pengoperasian dan pemeliharaan bangunan (facility management application) pasca konstruksi.
  • BIM 8D, digunakan untuk penerapan QHSE (Quality, Healthy, and Safety Environment) secara maksimal sehingga bahaya dalam proyek dapat diantisipasi.
Dengan demikan, penggunakan building information modelling (BIM) disarankan mulai diterapkan dalam semua disiplin ilmu karena memiliki banyak keuntungan. Yuk follow Instagram @calontekniksipil https://www.instagram.com/calontekniksipil untuk melihat informasi terkini seputar konstruksi.

Related News